Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Ceritaku…..’ Category

Hidup adalah pilihan…..

Dan aku sangat bersyukur keluarga dan atasan di tempat aku bekerja bisa mengerti dengan pilihan yang aku ambil. Keputusanku ini mungkin mengecewakan orang lain, tapi setidaknya aku ingin jujur…. jujur bahwa inilah memang pilihan yang sesuai dengan kata hatiku. Pilihan yang berasal dari lubuk hatiku yang terdalam. Aku hanya ingin mengawali dengan tanpa ada dusta. Aku tidak ingin berkata sanggup padahal kenyataanya aku tidak sanggup dan hanya menggerutu di kemudian hari.

Kata-kata Manajer di tempatku bekerja tadi pagi saat aku menghadapnya dan memohon maaf karena aku belum bisa memenuhi harapannya dalam mengemban suatu tugas membuat aku menjadi kuat. Selama beberapa waktu ini aku bergumul tentang apa yang menjadi keputusanku. Aku hanya bisa berserah, dan Tuhan memberi diriku kekuatan untuk mengatakannya pada atasanku.

“Maaf Pak, jika saat ini saya belum bisa memenuhi harapan bapak. Keputusan final memang ada ditangan Bapak, tapi setidaknya apa yang menjadi pilihan saya saat ini bisa menjadi bahan pertimbangan bagi Bapak dan Perusahaan.” Ucapku pada beliau tadi pagi.

Diluar dugaan beliau tersenyum dan bilang begini : “Tidak apa2 mbak, bukankah hidup ini adalah pilihan? Saya mengerti dan bisa menerimanya”. Senyumnya begitu tulus padaku.

Puji Tuhan. Hatiku sungguh terasa lega mendengar perkataannya itu.

Terima kasih ya Pak….. Hidup ini memang adalah pilihan, dan saya bersyukur bapak bisa menghargai pilihan yang telah saya ambil.

 

 

Read Full Post »

Cepat Sembuh ya, Nak…

Hari ini mama tak bisa tenang, adik kecil… Sejak semalam, bayangan diri Nela selalu hadir.  Mama terbangun tengah malam dari mimpi buruk mencekam. Dan ketika pagi hari Mama menelpon Nela dan mendapati keadaan Nela, sungguh mama betul2 tak bisa tenang. Mama dan Papa sayang Nela. Maaf jika dalam kondisi seperti ini kami tak bisa ada disampingmu…. Ah… apakah kata maaf saja cukup? Tak putus2nya mama menyalahkan kondisi ini dimana kita harus terpisah pulau dan tinggal berjauhan.

Ah, sungguh tak pernah terpikirkan untuk menjalani keadaan ini sekian lama.

Walaupun mungkin tak berarti apa2 bagi Nela, tapi sekali lagi Mama dan Papa minta maaf…

Saat kau terjaga nanti, semoga mama sudah ada didekatmu. Merengkuhmu dalam dekapan hangat milik mama….

Cepat sembuh ya, Nak….

Read Full Post »

Pahit…..

Terkadang ada kala rasa sukacita menghampiri… dan tak jarang pula kenyataan pahit harus terjadi. Kehidupan ini mengajarkan kita bahwa dalam keseharian hidup kita tak selamanya keberuntungan dan keinginan sesuai harapan berpihak pada kita. Ada suatu celah dimana hal yang menyakitkan dan tak sesuai harapan harus datang menghampiri.

Diriku bukan penikmat kopi… Tapi entah mengapa sore ini ingin sekali diriku menikmati secangkir kopi.

Hanya kopi…. tanpa dibubuhi gula.

Untuk menyesapi bahwa adakala rasa pahit itu nyata….

 

Read Full Post »

Pray for Manado…..

Hujan yang mengguyur Manado beberapa hari ini menyebabkan banjir di titik2 tertentu di Kota Manado. Banyak akses jalan yang menuju luar Kota Manado putus, dan ada juga jalan yang longsor.

Kemarin adikku yang keluar rumah karena harus mengurus legalisir ijasahnya di Kampusnya terjebak banjir di daerah seputaran kampusnya. Keluar dari rumah pagi hari dan pulang kerumah sudah menjelang malam. Itu pun dengan menumpang ojek dan mencari jalan alternatif yang bisa dilalui.

Keluargaku tinggal disana…. Orang tuaku tinggal disana…. adikku tinggal disana…. dan anakku pun sekarang ada di kota Manado. Rasa kuatir dan cemas tentu saja menghantuiku, kota dimana keluargaku tinggal kini dilanda banjir.

Dari jauh… dari jarak ribuan mil jauhnya dari Kota Manado… aku hanya bisa berdoa. Semoga semuanya baik2 saja….

Dibadai topan dunia… Tuhanlah perlindunganmu

Kendati goncang semesta… Tuhanlah perlindunganmu

Ya Yesus Gunung Batu di dunia, di dunia, di dunia…

Ya Yesus Gunung Batu di dunia,

Tempat berlindung yang teguh.

 

 

 

Read Full Post »

Sebuah Cerita…..

Aku punya seorang saudara sepupu. Cowok. Umurnya sebaya denganku, hanya lebih tua beberapa bulan dariku. Sejak kecil aku tak terlalu akrab dengannya karen kita tinggal di kota yang berbeda. Aku saat itu tinggal di Kotamobagu dan dia tinggal di daerahn Minahasa. Otomatis dalam setahun kami hanya bisa bertemu mungkin sekali atau 2 kali setahun. Kalau gak ketemu pas liburan sekolah, yang biasanya dia yang datang ke Kotaku atau aku yang ke Kotanya, mungkin pas Natal dan Tahun Baru yang dirayakannya di rumah Opaku yang sekota denganku.

Kami mulai menjadi akrab justru setelah lulus SMA. Aku dan sepupuku itu mendaftar di Universitas yang sama. Maka mulailah aku dan dia mengurus segala macam berkas pendaftaran secara bersama-sama. Tiap hari dia singgah dirumahku dan kami pun berangkat mengurus pendaftaran UMPTN bersama-sama. Pas pengumuman UMPTN, aku dan dia sama2 diterima di Universitas itu. Aku diterima di Fakultas Teknik Jurusan Elektro dan sepupuku itu diterima di Fakultas Sastra Jurusan Sastra Inggris. Maka mulailah aku dan dia kembali berangkat kampus bareng untuk mengurus pendaftaran ulang secara bersama-sama. Kami akhirnya gak bareng lagi semenjak aku mengikuti Ospek yang mana harus berangkat dinihari dari rumah.

Perkuliahan pun dimulai, dia masih sering main2 ke rumah dan kuakui bicara dengannya itu pasti akan membuatku terbahak-bahak. Suasana lucu dan gembira pasti selalu diciptakan oleh sepupuku itu. Tiap kali ketemu pasti hanya cerita humor yang keluar darinya. Aku bahkan menjulukinya sebagai orang yg tak pernah serius.

Tahun demi tahun berlalu…. Aku akhirnya lulus kuliah juga. Saat aku diwisuda, dia datang menemuiku di Auditorium. Sepupuku itu ternyata ingat kalau hari itu adalah hari wisudaku. Saat itu aku melontarkan pertanyaan padanya : “Kapan dirimu selesai? ayo cepat2 lho….Masak kita masuk kuliah sama2 trus keluarnya beda2″ dan hanya disambut dengan tawa serta lelucon darinya.

Setiap dia datang ke rumah, pasti aku langsung menerornya dengan pertanyaan “kapan kamu selesai kuliah…. ?” dan dia pun dengan enteng menjawab, “Tenang saja…., buktinya kamu lebih cepat selesai dariku tapi sampai sekarang masih nganggur juga….” yang hanya dibalas dengan wajah cemberut olehku.

Akhirnya disuatu sore dia datang kerumah sambil membawa berkas2 yang ingin diketiknya di komputerku. Yup… dia membawa konsep skripsinya. Aku pun gantian dengannya mengetik skripsi punyanya. Selama beberapa hari kami mengerjakan skripsinya bersama2… Aku sih hanya kebagian mengetik aja, sementara dia yang bagian mikir :)

Sembilan bulan setelah aku lulus kuliah, sepupuku itu akhirnya juga di wisuda. Beberapa hari sebelum wisudanya, ia mengabarkannya kepadaku dan memintaku untuk hadir. Aku ingin sekali hadir, tapi apa daya…. hari wisudanya itu bertepatan dengan hari dimana aku harus mengikuti tes psikotes dan diskusi kelompok si suatu Perusahaan (Perusahaan yang akhirnya menjadi tempat dimana aku bekerja sekarang ini). Pulang dari tes sudah siang hari, acara wisudanya pasti sudah selesai. Tapi aku tetap berangkat ke Kampus untuk menemui sepupuku selepas tes. Kebetulan dia membuat acara syukuran di kostnya yang dibelakang poliklinik kampus dan orang tuanya juga ada di kostnya. Maka jadilah aku mampir ke kostnya, berbincang dan bersenda gurau seperti biasa dengannya.

Masa-masa pencarian kerja pun dimulai. Aku akhirnya diterima untuk mengikuti diklat di Perusahaan itu. Saat aku diklat di Jakarta, ternyata sepupuku itu juga mendapat kesempatan mengajar di sebuah Sekolah Swasta di Jakarta. Jadilah saat itu dia menemuiku di tempat aku menginap di Wisma Cengkareng. Kami ketemu di warung bakso didepan Wisma Cengkareng, dan tentu saja sambil makan bakso. Seperti biasa, selalu ada hal2 konyol yang diceritakannya padaku, membuat aku terbahak-bahak. Membuatku lupa akan kepenatan diklat yang baru saja kujalani hari itu.

Saat aku sudah mendapat lokasi penempatan, sepupuku itu sering mengirimiku sms. Apalagi kalau bukan cerita2 lucu yang diceritakannya padaku. Sampai akhirnya saat dia sms, ternyata dia sudah tidak di Jakarta lagi tapi sudah balik ke kampungnya di Minahasa sana. Aku bertanya apa alasannya pulang, meninggalkan pekerjaannya disana… dan jawabnya : “Aku bosan makan daging ayam tiap hari disini… alergiku kambuh. Tak ada ikan laut disini…” jawabannya itu membuatku hanya bisa tertawa. Bisa saja dirimu  ngeles dari jawaban yang sebenarnya. Dan aku akhirnya tahu apa yang membuat dia tak betah disana, tapi tak mungkin kutuliskan disini… :)

Pas aku mau nikah, kukirim sms dan pesan via facebook padanya. “Aku mau nikah Desember ini. Kamu jadi pengapit/pagar bagus ya?” yang langsung saja dibalas dengan kata-kata menolak. “Tak mungkinlah aku jadi pagar bagus, sudah terlalu tua…. cari saja yang ABG” katanya sambil terus bilang awas kalau aku memasukkan namanya sebagai pagar bagus, nanti dia tak mau datang ke Pernikahanku… Padahal siapa juga sih yang mau jadikan dia pagar bagus, aku hanya bercanda dan menggodanya saja….

Profesi demi profesi pekerjaan ditekuni oleh sepupuku itu… Tapi yang kuherankan selalu aja tak ada yang membuatnya betah. Dia sudah merantau sampai ke Kalimantan, tapi akhirnya balik kampung juga. Kadang aku sering menegurnya : “Seriuslah sedikit dengan pekerjaannmu… kok semuanya gak betah” dan seperti biasa mengajak dia bicara serius itu seperti tak ada gunanya. Baru saja aku mau bicara serius langsung ditimpali dengan perkataan2 lucu dan penuh humor.

Bicara soal pasangan, sepupuku ini juga sampai sekarang belum punya pasangan. Pernah aku dimintanya untuk dikenalkan dengan seorang temanku. Tapi gak sampai jadian, komunikasi mereka akhirnya terhenti. Saat kutanya, jawabnya pasti ngawur. Mamanya sempat bilang padaku kalau beliau sudah ingin sekali menimang cucu, tapi sepupuku itu sepertinya belum mau serius.

Pas Natal kemarin, aku ketemu lagi dengan sepupuku itu. Dia kebetulan merayakan Natal di Kotamobagu, sama sepertiku. Saat melihat Nela yang lagi bermain bersama dengan para sepupuku yang masih kecil2, kulihat dia tersenyum sendiri. Aku yang melihatnya langsung bertanya :

“Kok senyum2 sendiri?” tanyaku

“Aku lucu Ne melihat tingkah anak2 kecil ini…. Sebentar marahan, sebentar lagi baikan…trus bertengkar lagi, trus baikan lagi… ah… menggemaskan deh” katanya

“Makanya kamu cepat2 nyusul…. supaya anakku dapat teman lagi” kataku

Dia hanya mengangkat bahunya…

“Entahlah Ne… aku masih belum siap…”

“Kenapa?”

“Aku belum punya pekerjaan tetap… nanti mau dikasih makan apa anak dan istriku nanti….Biarlah saat ini aku ingin bebas saja, melanglang buana seperti ini” katanya.

“Makanya, jalani pekerjaan itu harus serius. Jangan ogah-ogahan… kasihan lho orang tuamu. Mamamu bilang padaku beliau sudah pingin ada cucu… tapi kamunya yang masih gak serius” kataku

“Ah…kamu kok jadi cerewet seperti ini Ne… wah ini yang kutakutkan kalau punya istri nanti. Bisa2 aku diceramahi terus sama istriku nanti. Gak mau ah…. mending aku bebas aja dulu…..gak mau terikat dulu, gak mau menikah dulu…” katanya sambil meninggalkanku yang terus mengejarnya dengan kata2 ceramahku…

Untuk saudara sepupuku…. Mungkin dirimu memang masih ingin bebas… Mungkin dirimu masih ingin melanglang buana mencari kebebasan, tapi aku yakin… suatu saat, suatu hari, suatu ketika dirimu pasti akan mendarat juga ditempat yang begitu indah dan nyaman bernama KELUARGA…..

 

 

 

Read Full Post »

Cerita 1

Suatu siang di penghujung bulan Oktober 2013 lalu aku dipanggil oleh atasanku ke ruangannya.

“Mbak… ini ada pekerjaan perbaikan ruang pelayanan. RABnya sih sudah dibuat dari bagian pelayanan, cuma tolong kamu periksa lagi. Sepertinya ada beberapa material yang harganya harus di cek lagi” kata atasanku.

“Iya Pak…” jawabku seraya mengambil berkas yang disodorkannya padaku.

“Oh ya mbak… yang perlu di cek segera itu harga material untuk alat2 listrik ya… soalnya saya liat tadi harganya terlalu tinggi. Coba kamu cek harga alat2 listrik trus bandingkan dengan harga di RAB itu..”

Oke…oke… aku menangkap maksud atasanku. Berarti beliau menyuruhku untuk mengecek satu persatu harga material itu, terlebih yang perlu segera harus dicek adalah alat2 listrik ke tokonya langsung.

“Berarti ini saya harus cek ke toko alat listrik dulu ya pak?” tanyaku

Mendengar pertanyaanku itu beliau langsung menatapku tajam.

“Bukan mbak… tapi ke Kantor Pos…” jawabnya asal. Lalu disambungnya lagi….”Ya iyalah mbak, tentu saja ke toko peralatan listrik…Memangnya mau kamu cek kemana…”

Sebelum beliau mengoceh lebih lanjut, langsung saja aku keluar dengan segera dari ruangannya.

Pak.. pak…. kok jutek amat sih…!!!!

Cerita 2

Disuatu sore kembali aku dipanggil oleh atasanku ke ruangannya. Heran deh, dalam sehari entah berapa kali aku harus bolak-balik dipanggil ke ruangannya. Kata temanku aku tuh sepertinya tiap hari melakukan olah raga, yaitu olah raga bolak balik dipanggil :)

“Mbak… ini ada tugas untuk dikerjakan” kata beliau sambil menyodorkan kertas yang sudah berisi tulisan tangannya. Beliau pun menjelaskan panjang lebar mengenai tugas yang ditulisnya di kertas itu. Aku pun mangut-mangut tanda mengerti. Bisa… semoga aku bisa mengerjakannya, cuma kalo di deadline harus hari ini ya teler juga sih. Mana setengah jam yang lalu disela-sela pekerjaan rutin beliau juga ngasih tugas ke aku yang katanya harus diselesaikan hari ini juga dan itu baru kukerjakan setengah jalan. Dan kini ditambah lagi? hohohoho…. baik hati sekali bapak yang satu ini padaku.

“Sudah mengerti kan Mbak tentang tugas yang ini?” kata beliau setelah panjang lebar menjelaskannya padaku.

“Sudah pak…” jawabku

“Ya sudah, nanti itu dikerjakan ya… hari ini harus selesai” kata beliau. Duh… akhirnya muncul juga kalimat terakhirnya itu yang bagiku berarti harus pulang malam lagi…..

“Eh… Pak…” kataku agak mengambang

“Kenapa?”

“Memang ini harus selesai hari ini juga ya pak?” tanyaku ragu2 sambil menunjukkan kertas berisi tulisan tangannya yang tadi diberikannya padaku.

Dan kembali beliau memandangiku tajam.

“Enggak mbak, tahun depan….” jawabnya datar.

Dan sebelum beliau mengoceh atau menceramahiku lebih lanjut, keluar dari ruangannya dengan segera kurasa adalah jalan keluar yang paling baik. Saat kakiku sudah keluar dari ruangannya masih kudengar suaranya yang bilang begini : ” Harus hari ini ya mbak… ditunggu!!!!”

Cerita 3

Kejadiannya baru saja hari Jumat kemarin. Sehabis senam jumat, aku melihat list pekerjaan yang harus kuselesaikan hari ini. Ya, kadang supaya tidak lupa (karena diriku sekarang lebih sering lupa lho) aku membiasakan untuk menulis apa2 saja tugas yang harus kukerjakan beserta target waktunya. Dengan adanya list ini, rasanya pekerjaan yang dilakukan bisa termonitor, dan ada rasa puas juga ketika ada pekerjaan yang kita kerjakan selesai sebelum target waktunya. Dan jika ada yang melewati target waktu, aku bisa belajar dari pengalaman itu kira2 apa yang menjadi kendalaku sampai bisa lewat batas waktu….

Hm… hari ini tinggal membuat 2 RAB untuk pasang baru pelanggan potensial, menyusun breakdown target KPI Rayon sama dapat tugas tambahan menganalisa kwh jual pelanggan TM selama 1 tahun ini. Setelah itu baru  buat update pengusahaan s.d Desember. Oke… semoga bisa berjalan lancar. Kataku dalam hati saat melihat list dibuku pintarku :)

Dan, apakah listku itu bisa kukerjakan dengan lancar? Oh sama sekali tidak!!! Kendalanya? Apa lagi kalau bukan tugas serba mendadak yang lagi2 diberikan atasanku.

Jadi pas aku balik ke ruangan setelah habis mandi dan ganti baju setelah senam itu, salah satu Asman di kantorku sudah ada diruangan sambil bertanya padaku.

“Mbak, disuruh buat presentasi untuk Raker hari senin ya?” tanyanya

“Tidak pak”

“Trus nanti siapa yang buatkan presentasi ini?” tanya beliau sambil menujukkan surat undangan raker yang berisi program2 kerja yang harus disiapkan.

“Mungkin sudah dibuatkan Bapaknya” Kataku sambil menyebut nama atasanku.

“Gak mungkin mbak, atasanmu mungkin belum tahu. Ini undangannya baru saja diemail dan atasanmu sekarang masih pulang ganti baju”

Kulihat teman2 yang seruangan denganku semua memandangiku dan salah seorang dari mereka bilang begini : “Siap-siap mbak one,,, sepertinya ada tugas baru nih…” yang langsung kusambut dengan pandangan loyo.

Benar saja, pas atasanku datang dan buka email, langsunglah terdengar suara beliau yang memanggilku kedalam ruangannya. Sudah bisa kutebak, aku disuruh menyiapkan bahan presentasi untuk rapat senin. Beliau memberi tahuku kisi2  presentasi yang harus kusiapkan. Dan satu lagi katanya… “Hari ini jam 4 sudah harus selesai ya….” katanya dengan mimik serius yang kuartikan bahwa deadlinenya itu tak bisa dibantah lagi

Memang sih, selama ini kalau buat presentasi biasanya aku yang disuruh. Walaupun tidak semua sih yang kukerjakan.. Biasanya aku dan atasanku itu saling berbagi tugas. Aku nyiapkan data ini, dan beliau nyiapkan data itu, lalu digabung jadi satu presentasi. Pernah suatu ketika buat presentasi tentang suatu pekerjaan. Aku dan atasanku ngerjakan sampai jam setengah 8 malam, setelah itu presentasinya dibawa ke Manajer Area oleh atasanku. Aku sih pas selesai jam setengah 8 itu langsung pulang aja, tapi ternyata presentasi yang kami buat itu masih harus dikoreksi sama Manajer yang akhirnya membuat atasanku harus merombak lagi presentasinya sampai jam 10 malam. Mungkin karena ini hari jumat, waktunya beliau untuk pulang ke Surabaya jadinya beliau memberiku deadline sampai jam 4 untuk mengerjakannya…. Supaya kalau dikoreksi lagi gak sampai malam2 pulangnya…

Selesai beliau memberitahuku tentang kisi2 presentasi yang harus disiapkan, aku lalu bilang begini :

“Pak… memang wajib ya nyiapin bahan presentasi di Raker?” tanyaku

“Iya… Kok kamu tanya begitu mbak?” tanyanya serius

Aku menunjuk undangan yang ada susunan acaranya ke beliau

“Kan di undangan gak ada acara presentasi dari Area. Biasanya kan kalau ada presentasi sudah ditulis di Undangannya. Ini kan gak ada pak di susunan acaranya. Cuma ada acara diskusi aja pak….”

“Trus… maksudmu kita gak perlu nyiapin bahan presentasinya ya?” tanya beliau dengan mata melotot

“Iya pak….Nanti bawa data excel saja” kataku asal.

“Mbak…. sampean ini gimana sih. Masa nanti Pak Manajer berangkat tanpa bawa data?. Kita harus nyiapin mbak…. Nyipin bekal untuk beliau di raker nanti…..Kalo tiba2 beliau ditunjuk presentasi, trus apa yang mau beliau tampilkan? harus siap2 lho mbak …….dan bla bla bla……” beliau terus saja menceramahiku

“Iya pak…iya pak…. saya siapin sekarang pak….iya sekarang….” kataku yang berharap semoga ocehannya yang menceramahiku bisa berhenti.

Saat aku mau meninggalkan ruangannya beliau malah tertawa. Aku keheranan trus langkahku terhenti. Keheranan karena gak biasanya beliau tertawa lepas sama staffnya….Biasanya sih lebih banyak juteknya.

“Kenapa pak?” tanyaku

Sambil ketawa beliau bilang begini : “Kamu itu ya mbak, ada2 saja deh… selalu ngomongnya pasti sembarangan….” ujarnya sambil tertawa dan geleng-geleng kepala.

Aku pun tak bisa menahan senyumku.

Gak salah nih? Kan bapak yang biasanya lebih sering ngomol asal dan sembarangan. Plus jutek lagi….. :)

Read Full Post »

Pintar atau…….?

Beberapa bulan  ini adalah saat2 dimana Nela mengalami yang namanya sulit makan. Untuk menghabiskan makanannya saja butuh waktu yang lama, dan lebih sering makanan di piringnya Nela selalu tak habis.

Kadang aku berpikir, kok diriku sebagai mamanya mempunyai nafsu makan yang besar tapi anaknya kok tidak ya… :)

Suatu hari pas waktu makan malam aku bilang begini ke Nela….

“Nela, mama pintar lho karena tiap makan selalu pasti dihabiskan. Nda rupa Nela yang selalu tidak habis.”

Kulihat Nela terdiam…. Aku pun langsung bilang begini lagi:

“Nah, sekarang Nela habiskan ya….”

Dan Nela akhirnya menghabiskan makanannya walaupun agak lama. Saat suapan terakhir selesai, aku langsung bertepuk tangan dan bilang : “Hore… Nela pintar, makanannya habis. Hore….”

Nela pun langsung bersorak dan ikut bertepuk tangan, sambil bilang begini padaku…

“Mama, kalu makanannya Nela sudah  habis berarti Nela apa mama…..?” tanyanya

“Nela pintar…..” jawabku tersenyum

“Bukan Mama…..” kata Nela sambil memonyongkan bibirnya. Akhir2 ini Nela memang sangat doyan memonyongkan bibirnya.

“Trus kalo bukan pintar, lalu apa?….” tanyaku pada Nela sambil bergaya sedang berpikir.

“Bukan pintar Mama….” jawab Nela

“Lalu apa? Nela pintar sama seperti mama, kalo makan harus dihabiskan” jawabku

“Bukan pintar mama, tapi….” ujar Nela terdiam

“Tapi apa dek….” tanyaku. Penasaran juga aku menanti jawaban Nela.

“Nela rakus….” jawab Nela sambil tersenyum

*Tepok jidat…….*

 

 

Read Full Post »

Sekedar Cerita…..

Cerita 1

Saat perjalanan dari Kotamobagu menuju Manado beberapa bulan yang lalu, ketika sampai di daerah Kecamatan Tenga Kabupaten Minahasa Nela melontarkan pertanyaan ini padaku.

“Mama, itu apa? ” tanya Nela sambil menunjuk daerah hutan yang ada disekeliling perjalanan kami di daerah itu. Pohon2 besar nan rindang memang masih mendominasi sekeliling jalan.

“Hutan dek…” jawabku

Sekitar 1 menit kemudian Nela kembali bertanya:

“Mama, itu namanya apa?” sambil tetap menunjuk kumpulan pohon2 rindang yang ada disepanjang perjalanan kami.

“Itu namanya Hutan…” jawabku

Dan pertanyaan Nela berlanjut terus disepanjang perjalanan kami. Nela baru berhenti bertanya ketika kami memasuki daerah Amurang, dimana sudah terlihat rumah2 penduduk disana. Tak ada lagi hutan2 yang terlihat.

Sebelum memasuki daerah Tanahwangko, kembali banyak pohon2 besar yang berjejer disepanjang perjalanan. Dan Nela kembali mengajukan pertanyaan yang sama sambil menujuk kearah pohon2 besar itu.

Seperti sebelumnya, maka aku pun menjawab : “Itu Hutan dek…”

Saat memasuki Kota Manado, kami belum langsung pulang ke rumah tapi singgah dulu di MTC untuk mengajak Nela bermain sejenak.

Pas hendak keluar dari kawasan Mega Mas itu, Nela melontarkan kembali pertanyaan ini :

“Mama, itu apa? katanya sambil menunjuk sebatang pohon yang berdiri di samping pintu keluar kawasan mega Mas.

“Oh… itu pohon dek…” jawabku

“Salah Mama, itu hutan….” kata Nela sambil memonyongkan bibirnya.

Oalah Nak, Nak… rupanya sebelum2nya mama sudah salah paham dalam menjawab pertanyaanmu. Dirimu bertanya tentang pohon tapi mama menjawab tentang kumpulan pohon2 rindang *tepok jidat berkali-kali*

Cerita 2

“Nela, jangan lari2 lho… Lantainya licin baru habis di pel…” Begitu ucapku saat Nela berlari2 padahal lantainya masih agak licin.

Walaupun Nela terkesan tidak mendengarkan ucapanku, alias masih tetap saja terus berlari tapi ternyata dia menyimpan rapat2 ucapanku dalam ingatannya.

Kejadiannya saat itu aku dan Nela sedang makan bubur ayam. Punya Nela masih belum habis, masih tersisa beberapa sendok suapan lagi. Sedangkan punyaku, jangan ditanya deh. Pasti sudah habis.

“Nela, ayo cepat habiskan buburnya…”

Dan Nela masih saja terus bermain, berlari2 disekitar ruangan dengan membawa mainannya.

“Nela…ayo habiskan…” Kataku lagi dan hanya disambut dengan gelengan kepala oleh Nela.

Untuk kembali membujuknya, aku menunjukkan piringku yang sudah kosong.

“Coba Nela lihat piring mama, ini bubur punya mama sudah habis. Sudah licin lho….” kataku sambil menunjukkan piringku yang kosong ke arah Nela.

Mendengar ucapanku, Nela langsung berhenti berlari dan mendekat kearahku. Aku bersorak, kukira Nela mau makan lagi menghabiskan buburnya. Nyatanya Nela hanya mengucapkan kata2 ini padaku.

“Mama, kalo licin itu lantai… bukan piring…” ucap Nela yang setelah itu langsung kembali berlari2 keliling ruangan.

Aku hanya bisa melongo sambil bergantian memandang putri kecilku dan piring kosong yang ada ditanganku. Anakku sudah besar ternyata…. sudah bisa men-skak mamanya dengan tepat sasaran.

—————————–

Hanya sekedar cerita ringan disiang hari.

Selamat bekerja kawan2 semua….

Read Full Post »

Natal Tahun ini…..

Belum pasang Pohon Natal…..

Sampai hari ini dirumah kami belum terpasang Pohon Natal. Tahun-tahun sebelumnya biasanya pas akhir bulan November atau awal Desember, Pohon Natal kecil milik kami sudah terpasang, dan sekarang….. baru hari ini aku mau mengeluarkan pohon Natal dari kardusnya dan mungkin sore ini baru bisa memasanganya. Agak terlambat sih…. tapi lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali kan?? :)

Hampir gak dapat cuti….

Yup… hampir saja aku gak dikasih  cuti untuk pulang kampung di Natal tahun ini. Apalagi sebabnya kalau bukan karena dikejar2 kerjaan…. Akhir tahun kantor memang selalu sibuk, dan tahun ini termasuk akhir tahun tersibuk. Pas bulan November lalu, aku sempat menghadap atasanku untuk mengajukan cuti. Saat itu beliau lagi asyik menghadap monitor komputernya. Percakapan di suatu sore….

“Pak, saya bisa ngajukan cuti?”

“Bisa… Kapan mau ngambil cutinya?” tanyanya tanpa melepaskan pandangan dari layar komputernya

“Desember Pak…”

“Oh….berapa lama cutinya?”

“1 bulan, Pak….”

Dari posisi sedang asyik menatap layar komputernya, beliau langsung berubah posisi menatapku tajam.

“Kok lama sekali mbak… itu cuti atau apa to? 1 bulan lho…”

“Kan saya mau ngambil cuti besar, Pak… jadi sekalian aja 1 bulan”

“Tapi jangan lama2 begitu…. kamu nanti pasti dicari lho mbak… trus kerjaanmu siapa yang ngerjakan”

Aku diam saja, walaupun dalam hati bilang gini “Kan ada bapak… sekali-kali ngerjakan pekerjaan anak buah kan gak apa2 pak?” *hohhoho…anak buah tak tahu diri…* (Dan aku masih tahu diri, gak berani mengucapkan kata2 itu kepada beliau :))”1 bulan itu lama lho mbak, kalau 1 minggu saya ijinkan, tapi kalo 1 bulan tidak”

“Kalo 2 minggu gimana pak?” (berusaha untuk nego”

Kulihat beliau masih mengernyitkan kening tanda berpikir. Langsung aja kusambung bilang begini : “Saya rencananya mau pulang ke Sumatera pak, jadi mau ngambil cuti agak lama…”

“Lho, kamu kan orang Manado, kok jadinya pulang ke Sumatera”

“Suami saya kan orang Sumatera, Pak….”

“Ohhhh….”

“Jadi gimana pak, bisa ya?”

“Gak bisa, kalau cutinya lama saya nggak bisa berikan ijin. Tanya aja langsung ke Manajer. Kalau beliau ngijinkan baru saja ijinkan juga”

“Jadi saya harus tanya ke Pak Manajer dulu ya Pak?”

“Lha iya…. 2 minggu atau 1 bulan itu sudah lama lho…. harus manajer yang berwenang memberikan ijin cuti”

“Iya Pak, terima kasih” sahutku dengan langkah gontai meninggalkan ruangannya.

Sampai akhirnya…. tak jadilah aku mengambil cuti 1 bulan ataupun 2 minggu. Dan batal pula rencana kami pergi ke Sumatera Utara… Karena pas suamiku pulang ke Sumatera 2 minggu yang lalu karena ada suatu keperluan, saat itu aku memang dalam posisi tidak bisa cuti karena ada pekerjaan entry data di aplikasi yang baru saja diimplementasikan di kantor kami. Dan akhirnya pula…. untuk Natal tahun ini aku masih beruntung bisa dikasih ijin ngambil cuti oleh atasanku. Dan itu kugunakan untuk pulang ke Manado..Jangan berharap dikasih cuti 1 bulan atau 2 minggu, ini dapat cuti 3 hari saja aku sudah dikasih pekerjaan yang bertumpuk yg harus kuselesaikan sebelum cuti. Puji Tuhan, jumat kemarin semua PR yang diberikan beliau kepadaku sudah selesai kukerjakan….

Kata beliau begini : “Cuti 3 hari kan bisa dapat libur seminggu. Itu sudah cukup lho mbak… jangan lama2 lho cutinya….”

Wuahhh… kalo bapak yang keluarganya cuma di Surabaya sih gak apa2, tapi untukku yang keluarganya berdomisili bukan sekedar antar kota satu pulau,  tapi sudah antar pulau antar laut antar propinsi, cuti itu adalah kemewahan yang sungguh luar biasa…. :)

Tapi intinya…. bisa dapat cuti sih walaupun hanya 3 hari itu sudah sangat membuatku bersyukur…

Harga Tiket Mahal…

Ya… harga tiket di Natal  tahun ini sungguh sangat mahal. 3 Kali lipat dari harga tiket promo yang biasanya kubeli saat pulang Manado. Jangan berharap THR tahun ini bisa membeli macam2 barang, karena sebagian besar sudah tersita di ongkos tiket :( Tapi apalah artinya barang2 yang kita beli dibanding bisa berkumpul dengan keluarga besar kan?? ah untuk orang perantauan sepertiku… rindu itu memang mahal harganya….:)

Berbagi Kasih…

Tak ada yang lebih menyejukkan hati selain bisa berbagi kasih dengan sesama. Puji Tuhan untuk Natal tahun ini kami teman2 seiman di kantor masih diberikan kesempatan untuk berbagi kasih dengan mereka yang membutuhkan. Semakin menyadarkan kami bahwa apa yang sudah kami miliki saat ini itu sudah lebih dari berkecukupan dibanding mereka yang tinggal terasing dari keluarga, mereka yang terbuang dan mereka yang tak mampu dalam hal materi. Patutkah kita masih mengeluh kurang ini kurang itu setelah begitu banyak berkat dan penyertaan yang Tuhan nyatakan dalam hidup kita? Baik itu dalam pekerjaan maupun dalam rumah tangga kita? Kurasa, saatnya kita buang jauh-jauh segala keluh kesah itu.

Mau ke Balikpapan….

Wah, ngapain mau ke Balikpapan?? Karena acc cuti dari atasan yang begitu mepet waktunyajadinya gak bisa pesan tiket dari jauh2 hari. Hasilnya? Minggu besok aku dapat tiket pulang ke Manado transit Balikpapan. Jadi, besok ke Balikpapannya hanya sebatas di Bandara aja…. Transit ceritanya. Terakhir transit di Balikpapan itu tahun 2009 lalu, dan saat itu aku hanya bisa bolak-balik keliling seputaran bandara karena pesawat yang akan kutumpangi saat itu delay 7 jam… Semoga perjalananbesok bisa berjalan dengan lancar. Aku yakin dan percaya, Tuhan Yesus akan selalu menyertai.

Berdebar-debar…

Ada berita yang keluarga kami tunggu di hari menjelang Natal ini. Deg-degan sih rasanya… Tapi apapun hasilnya, kami tetap bersyukur. Karena kami tahu apapun hasilnya, itu yang terbaik bagi keluarga kami.

 

Read Full Post »

Saat aku mengalami masalah dalam kehamilanku dulu, dokter Gun selalu menyemangatiku dengan kata2 seperti ini : “Anak itu adalah Anugerah. Selama kita masih diberikan kesempatan, jagalah Anugerah itu dengan sebaik-baiknya….”

Saat menjelang kelahiran Nela, dan waktu kami mempersiapkan nama untuk bayi kami, saat itu kata Anugerah menjadi salah satu nama yang akan kami berikan untuk anak kami. Dan jadilah nama Nathaniela menjadi nama tengah anak kami. Dalam bahasa Ibrani, Nathaniela itu artinya Anugerah Tuhan.

Saat aku habis melahirkan dan untuk kontrol selanjutnya ditangani oleh dokter Eko, karena dokter Gun waktu itu lagi cuti, dokter Eko bilang begini padaku : “Ibu sungguh sangat beruntung…. Kalau melihat kondisi kehamilan ibu, pendarahan yang terjadi dan ada kista yang cukup serius, sangat jarang yang bisa melalui ini dengan kondisi Ibu dan bayinya selamat. Sungguh, Ibu mendapat Anugerah yang begitu besar. Bersyukurlah kepada Tuhan atas anugerah itu….”

Dan kini…. ketika aku harus bolak balik membawa Nela menempuh perjalanan  antara Manado dan Kediri karena tak ada yang bisa  menjaga Nela di Kediri saat aku berkerja, itu bukan berarti aku tak mensyukuri anugerah yang Tuhan berikan padaku. Bukan…. bukan karena aku menyia-nyiakan putri kecilku… tapi karena rasa sayangku yang begitu besar pada Nela yang membuatku sangat tidak tega untuk meninggalkannya pada orang lain yang bukan kerabat atau saudara jika aku tinggal bekerja. Terasa sakit, jelas! Pahit, memang!! Tapi untuk kali ini, mungkin inilah jalan terbaik bagi kami untuk sementara waktu….

Sampai kapanpun, Nela tetap menjadi anugerah terindah dari Tuhan untuk Mama dan Papa….

 

374483_200717586778422_1522580932_n

RCTI Oke…. :)

 

 

1422634_200497370133777_1561957481_n

Sampai saat ini Lucur-lucur tetap menjadi permainan favorit Nela….

64242_10201395169898451_1364837844_n

Nela dan Winnie The Pooh….

 

1000364_10201167668059088_1291763896_n

Ayo bergaya adik kecil….

 

578547_201942539989260_913868556_n

Saat di foto Papanya, Nela langsung mengangkat kedua jempolnya dan setelah itu bilang begini : “Mantap toh!!!”

1460186_10201167795102264_666221941_n

Tatapan matamu yang sangat jenih selalu menyejukkan hati mama. Sangat jernih seperti hatimu, Nak….

Read Full Post »

Older Posts »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.