Feeds:
Posts
Comments

Archive for November, 2011

Beberapa waktu yang lalu seorang temanku bertanya padaku kalau semasa aku hamil dulu, aku ditangani oleh dokter siapa. Maklum kata temanku saat hamil dulu aku penuh dengan segudang masalah, makanya menurutnya pasti hanya dokter yang bertangan dingin dan telitilah yang bisa menangani semua masalah itu. Aku pun tak hentinya bersyukur dengan penyertaan Tuhan dan jalan terbaikNya yang boleh mengirimkan dokter tersebut untuk menanganiku setelah sebelumnya aku ditangani oleh dokter yang sama sekali tidak informatif.  Kujawab pertanyaan temanku itu dengan menyebutkan nama dokter yang menanganiku beserta tempat prakteknya plus jadwal prakteknya. Dan ketika temanku itu menghubungi RS tempat praktek sang dokter, ternyata dokter kandungan yang menanganiku itu sudah tidak praktek melayani pasien lagi. Dengar2 beliau sekarang hanya bertugas di bagian kantor RS saja. Wah, agak sedih juga mendengar kabar itu, karena menurut pengamatan dan pengalaman yang kualami selama menjadi pasien beliau, dokter itu sangat sangat perhatian dengan kondisi dan keadaan pasiennya.  Bukan hanya kondisi fisik saja yang diperhatikan, tetapi kondisi mental juga tak pernah luput dari perhatiannya.

Dari perbincangan dengan temanku itu, akhirnya aku menulis cerita ini. Mengingat kembali bagaimana saat pertemuan aku dengan dokter tersebut plus pengalamanku selama menjadi pasiennya.

Seperti cerita diblog friendsterku dulu, setelah mengalami flek terus menerus di minggu ke-6 masa kehamilanku, aku akhirnya memutuskan untuk mencari second opinion. Saat itu ada 2 nama dokter yang akan menjadi tujuanku untuk pergi periksa, yaitu dokter yang praktek di RS Bersalin di Pare atau ke dokter yang praktek di RS Baptis. Sebenarnya saat itu aku lebih condong ingin periksa ke dokter yang di Pare, karena menurut informasi yang kudapat dari ibu kosku saat itu, dokter yang di Pare itu sudah sangat berpengalaman dan tentu saja terkenal. Sedangkan dokter kandungan yang di RS Baptis itu direkomendasikan oleh ibu-ibu teman kantorku, yang kata mereka dulu waktu melahirkan mereka ditangani oleh dokter itu. Saat itu yang ada di pikiranku, ibu-ibu di kantor itu kan anak-anaknya kebanyakan sudah seumuran denganku, berarti dokter itu menangani mereka sekitar 20-an tahun yang lalu, jadi pastilah dokter itu sekarang sudah sangat tua. Awalnya agak kurang sreg juga sih dengan dokter yang direkomendasikan ibu-ibu di kantorku. Tapi karena ada halangan sehingga aku tidak bisa pergi periksa ke dokter yang di Pare, akhirnya aku memutuskan untuk ke dokter yang di Baptis. Saat menunggu di ruang tunggu klinik, saat itu ditengah kekalutan akan kondisi kehamilanku sempat pula aku membayangkan kalau dokter yang akan memeriksaku itu sudah tua, berkacamata tebal dengan gaya bicara yang kaku. Tapi tak apalah menurutku, kalau memang beliau sudah tua dan menangani kehamilan ibu-ibu di kantor sejak 20an tahun yang lalu, berarti beliau sudah sangat  berpengalaman. Tapi perkiraanku itu sama sekali tidak terbukti ketika memasuki ruang periksa. Siapa sangka dokter tua, berkacamata tebal dengan gaya bicara yang kaku menurut bayanganku itu ternyata tidak pernah ada. Yang ada hanyalah seorang dokter berwajah khas china yang kalau menurutku mungkin masih berumur 40an (kayaknya dokternya memang awet muda deh) , berkacamata, tetapi bukan kacamata tebal,  dan tentu saja tidak kaku melainkan mempunyai gaya bicara dan pembawaan yang ceria. Pas aku masuk, langsung saja kata-kata ini keluar dari bibirnya : “Hallo…..Selamat malam Sonelia , kok sendirian sih. Mana supporternya?” .Katanya sambil melihat buku rekam medisku.

Saat itu aku hanya bingung, lalu bertanya :”Supporter apa dok?”

“Ya supporter yang bikin Sonelia harus periksa disini” katanya dengan senyum.

“Oh…suami saya kerja diluar kota dok”

“Wah sendirian dong disini. Oke, sekarang siapa sih nama panggilannya”

“One dok”

“Oke one……” dan bla bla bla percakapan plus pemeriksaanku di mulai. Beliau sangat komunikatif dan bisa dibilang sangat-sangat memberikan informasi tentang keadaan janin plus kondisi tubuhku.  Sejak pertemuan pertama itulah aku sudah yakin kalau aku telah menemukan dokter yang tepat untuk menangani kehamilanku. Namanya dokter Goenawan, tapi orang lebih sering memanggilnya dokter Gun.

Minggu demi minggu aku pun rutin kontrol ke dokter Gun. Keluhan demi keluhan datang menghampiriku tiada henti, dan setiap kusampaikan ke dokter, beliau selalu menanganinya dengan sabar. Tak pernah ada batas waktu untuk berkonsultasi dengannya. Tak pernah ada sikap buru-buru saat melayani pasien. Setiap kali keluar dari ruang prakteknya, selalu ada rasa puas karena beliau selalu melayani kami dengan kasih.

Aku masih ingat saat opname pertama kalinya di RS, bagaimana saat aku dan kakak saat itu sangat sedih dengan pendarahan yang kualami dan kami hanya bisa diam membisu. Aku terbaring di tempat tidur dan si kakak duduk di samping tempat tidurku. Saat itu dokter masuk untuk memeriksaku. Melihat keadaan aku dan kakak yang sedih dan terdiam, dokter Gun tak melakukan pemeriksaan apapun. Tak ada sepatah katapun yang keluar dari bibirnya. Beliau hanya menatap kami berdua dengan mata berkaca-kaca, dan menganggukkan kepalanya seraya memberikan isyarat kepada kami dengan melipat kedua tangannya membentuk sikap doa. Tanpa kata, tanpa suara tapi perhatiannya itu begitu membekas bagi kami.

Atau pada saat aku di pagi hari sudah harus terbaring di klinik RS karena pendarahan hebat yang kualami, saat itu hanya tangis yang bisa kukeluarkan, beliau menanganiku seperti seorang bapak kepada anaknya. Menyelimutiku sebelum di USG, dan memberikan kata-kata penguatan kepadaku.

”Sudah one, kamu tidak boleh sedih seperti ini. Anak itu adalah titipan Tuhan. Ada yang Cuma dititipkan 3 bulan di kandungan diambil kembali, ada yang sampai 9 bulan eh pas melahirkan tetap di minta lagi, malahan ada yang tidak diberi sama sekali. Yang bisa kita lakukan hanyalah berusaha sebaik mungkin menjaga titipan itu. Tapi jika Dia sudah berkehendak, kita tak bisa menolaknya.”

Pada saat aku harus dioperasi, saat itu kukira bukan beliau yang akan menanganiku. Tapi ternyata beliau tetap menanganiku. Kata-katanya diruang operasi masih sempat kuingat :”One, kamu ini pasien yang sudah kutangani sejak hamil muda jadi pasti akan kutangani terus. Masak pas saat-saat mau berjuang melahirkan aku tinggal sendiri, ya enggaklah…”

Kata mamaku, selesai operasi beliau langsung datang menghampiri si kakak, mama, tanteku, Ibu pendeta dan suaminya yang juga menungguiku saat operasi dan menyalami mereka satu demi satu sambil bilang begini : “Puji Tuhan, semua berjalan lancar. Selamat ya, sekarang sudah ada yang jadi papa dan juga sudah ada yang jadi oma. Sekali lagi selamat ya….”. Ibu pendeta malahan sempat bilang begini ke mamaku :”Wah, bersyukur sekali ya one boleh ditangani oleh dokter kandungan yang begitu baik dan ramah”.

Saat masa pemulihan sehabis melahirkan di RS, aku memang sudah tidak ditangani oleh beliau lagi, karena 2 hari setelah Nela lahir beliau ambil cuti ke Medan. Saat itu beliau hanya menengokku sehari setelah melahirkan, sambil tak lupa bilang begini :”Anaknya mirip siapa ya? Ayo tebak, mirip papa atau mirip mamanya?” Karena saat itu aku belum bertemu Nela, maka aku hanya bilang: “Belum tahu dok, aku belum bertemu anakku”.

Beliau pun bilang :”Kalau begitu sebentar lagi saya suruh suster bawa anaknya kesini, sekarang sih masih dirawat di ruang observasi. Sabar ya….sebentar lagi kalian akan bertemu kok”.

Waktu kontrol selanjutnya aku ditangani oleh dokter E, yang juga ikut mengoperasi aku. Tetapi kemudian untuk kontrol pasca operasi kista, aku akhirnya balik lagi periksa ke beliau. Aku masih ingat saat sehabis melahirkan, dokter E meresepkan vitamin untuk memulihkan tubuhku pasca operasi. Tapi saat meminum vitamin itu kuamati kok Nela selalu langsung mencret. Akhirnya kuhentikan saja untuk mengkonsumsinya. Nah, pas aku kontrol ke dokter Gun, beliau juga meresepkan vitamin itu padaku, dan aku langsung bilang begini :

“Dok, yang lalu pas diresepkan vitamin itu kok pas aku minum anakku langsung mencret”

“Masa sih?” tanyanya dengan kening berkerut.

“Iya dok, makanya vitaminnya sampai sekarang masih ada, tidak aku minum sampai habis.”

“Hmmm…seharusnya sih vitamin itu tak mempunyai efek apapun bagi ibu yang menyusui…..tapi, saya lebih percaya pada one. Kan one yang mengalaminya sendiri, tahu kalau pas minum itu si kecil akan mencret. Jadi, dihentikan saja ya….Supaya tidak mubazir, sisanya biar suami saja yang minum”.

Si kakak langsung protes “Lho, kok harus saya yang minum dok?”

Dokter hanya tertawa trus bilang : “Jangan kuatir, siapa saja bisa minum vitamin itu. Saya juga sering mengkonsumsinya. Ini buktinya” katanya sambil mengeluarkan 1 bungkus vitamin yang persis seperti yang diresepkan dokter E padaku.

Terakhir aku periksa bulan Mei lalu. Saat hasil operasi kistaku di ketahui sekitar 2 minggu setelah melahirkan, dokter E memberikan vonis yang begitu mengejutkan aku.  Saat mendengar vonis itu, sempat aku larut dalam kesedihan selama beberap hari. Tapi puji Tuhan, aku bisa bangkit melawan semua kesedihan itu. Dan ketika si kakak menanyakan hasil vonis itu beserta kemungkinan pemulihanku ke dokter Gun bulan mei kemarin, beliau memberikan jawaban ini : “Kemungkinannya sangat kecil, tapi pasti akan menjadi besar jika Tuhan memberkatinya. Jadi, tak perlu kuatir dalam menghadapi semuanya. Biarkan Tuhan yang turut bekerja”

Bulan lalu aku sempat ketemu dengan dokter Gun saat membawa berobat Nela. saat itu aku sedang duduk di ruang tunggu lantai 4 RS Baptis, tempat dimana Nela harus menjalani pemeriksaan (kapan-kapan akan kuceritakan cerita tentang Nela ya…), tiba-tiba seseorang memanggilku dari balik tangga yang ada di dekatku.

“Lho one….sedang apa disini?”

Ternyata dokter Gun yang menyapaku.

“Eh dokter, ini lagi bawa anak untuk periksa “

Beliau memandangi Nela dengan tersenyum

“Wah, ini toh si adek….. halo adek, sudah besar ya sekarang. Si adek mau periksa disini? Kenapa?” tanyanya sambil menunjuk ruang yang hendak kutuju.

“Iya dok, sama dokter anak dirujuk periksa kesini” kataku. Dan aku pun menceritakan tentang kondisi Nela dan dokter mendengarkan ceritaku sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.

Setelah aku habis cerita, beliau pun asyik memanggil-manggil Nela, yang pada akhirnya di balas dengan tangisan oleh Nela. Kemudian dokter masuk ke Ruang itu dan kulihat beliau membaca dan meneliti berkas rekam medis Nela. Selesai membaca rekam medisnya, dokter pun kembali menghampiri tempatku. Tapi baru saja mau beliau mau mengajak Nela main, langsung saja disambut dengan tangisan Nela. Akhirnya beliau hanya bilang begini ke Nela : “Ya sudah, om dokter gak ngajak adek bicara, om dokter ngajak mama aja kok” katanya sambil pamit berlalu, dan tak lupa sambil terus bilang Daa Daa ke Nela…. 🙂

Terima kasih ya dokter, atas segala perhatian, semangat dan pelayanan penuh kasih yang boleh dokter berikan. Walaupun aku mungkin sudah tidak akan periksa ke dokter lagi, karena dokter juga sudah tidak praktek, tetapi kata-kata penguatan yang sering dokter ucapkan kepada kami, pasti akan menjadi semangat bagi kami. Puji Tuhan, kami boleh mengenalmu, dokter R.M Goenawan…..

Advertisements

Read Full Post »

1 Tahun…..

Tak terasa perjalanan waktu yang mengiringi kehidupan kami semenjak kehadiran Nela. Serasa baru saja aku membawa pulang Nela dari RS setelah kelahirannya, kini tak terasa sudah setahun usia Nela. Setiap hari yang kami jalani terasa begitu berwarna. Nela menghadirkan canda tawa dan hari-hari penuh sukacita dalam hidup kami. Terima kasih Tuhan untuk berkatmu…..

Tak ada perayaan pesta Ulang Tahun meriah yang kami selenggarakan. Kami hanya membawa Nela mengikuti Ibadah Sekolah Minggu di Gereja, menyanyi dan mendengar cerita Firman Tuhan. Tak lupa pula teman-teman sekolah minggu Nela menyanyikan lagu Selamat Ulang Tahun buat Nela ketika mereka tahu kalau tepat hari itu Nela berulang Tahun. Dan Nela pun terlihat gembira saat teman-temannya menyanyi, mendoakan dan dengan serentak berkata :”Selamat Ulang Tahun Roselia, Tuhan Yesus Memberkati”. Bagi kami beribadah sekolah minggu dengan teman-teman Nela sudah lebih dari pada perayaan pesta yang meriah. Dan tak lupa pula Nela membagikan bingkisan snack untuk teman-temannya. (Foto-fotonya nanti menyusul ya……) 🙂

Tepat diusia Nela yang genap setahun hari Minggu tanggal 6 November 2011, kami juga membawa Nela untuk menerima Sakramen Baptisan Kudus di GPIB Immanuel Kediri.

Betapa syahdu dan terharunya aku dan si kakak saat kami membawa Nela menerima Sakramen Baptisan Kudus. Apalagi setelah kami mengucapkan janji orang tua, terdengar instrumen lagu “Pandang Ya Bapa” yang mengiringi kami saat maju membawa Nela ke depan.

Pandang ya Bapa, dalam rahmatMu

Kami umatMu yang berkumpul ini

Membawa anak padaMu disini

Dalam percaya akan janjiMu

Terima Kasih Tuhan Yesus untuk saat terindah yang boleh Tuhan anugerahkan dalam kehidupan keluarga kami. Tuhan boleh menyertai kehidupan Nela dan memberikan kami sebagai orang tuanya kesempatan untuk membawa Nela menerima Sakramen Baptisan Kudus. Mampukan kami untuk selalu menjaga, mendidik dan membimbing Nela agar berjalan seturut kehendak dan jalan Tuhan. Mengajar Nela untuk selalu menjadi anak yang takut akan Tuhan.

Selamat Ulang Tahun yang pertama putri kecilku, Roselia Nadine Nathaniela Panjaitan…..

Tuhan Yesus selalu memberkati kehidupanmu….. Amin

Read Full Post »