Feeds:
Posts
Comments

Archive for October, 2013

Sewaktu aku tidak lulus dalam seleksi program T2 maupun UMPTN saat melamar masuk ke Fakultas Kedokteran, ada sebersit rasa kecewa yang menyelimutiku. Tapi setelah menjadi mahasiswa di Fakultas Teknik Jurusan Teknik Elektro barulah kusadari bahwa inilah bidang yang sebenarnya cocok denganku. Aku menyukai pelajaran elektro, khususnya bidang elektronika dan telekomunikasi, dan saat itu aku tahu inilah rencana Tuhan yang sudah disiapkan untukku.

—–

Saat kuliah semester VII, aku sempat dibuat menangis oleh seorang dosen. Dosenku ini termasuk dosen yang sangat irit dalam memberi nilai. Banyak teman2ku yang harus mengulang sampai beberapa kali di mata kuliah dosen ini. Pada mata kuliah Perancangan Sistem Elektronika, kami diberi tugas untuk membuat sendiri suatu rangkaian pada PCB. Saat itu tugasnya adalah secara kelompok. 1 Kelompok 4-5 orang. Sejak awal pengerjaan tugas tersebut, aku ikut serta dalam proses pengerjaannya. Mulai dari menggambar rangkaian lewat PCB Designer, proses pembuatan rangkaian di papan sampai pada saat pembuatan makalah yang menjelaskan tentang rangkaian yang kami buat. Ketika hari pengumpulan tugas, dari 5 kelompok hanya kelompok kami yang bisa mengumpulkan tugas itu tepat waktu. Saat itu hanya akulah satu-satunya mahasiswa cewek yang ikut kuliah pas hari pengumpulan tugas. Teman-teman cewek yang lain tidak mau ikut kuliah karena tugasnya belum selesai. Dan bukan hanya teman2 cewek saja, banyak juga teman2 cowok yang tugasnya belum selesai memutuskan untuk tidak masuk kuliah. Memang ada beberapa kelompok yang tidak mengerjakan tugasnya sendiri, tapi menyuruh teman2 yang  anak politeknik untuk mengerjakannya, dan pada saat pengumpulan tugas, tugas mereka belum selesai dikerjakan. Daripada kena marah, begitulah kata teman2ku yang tidak ikut. Jadilah yang hadir kuliah saat itu hanyalah beberapa orang saja. Pas waktu pengumpulan tugas, melihat hanya aku satu2nya mahasiswa cewek yang hadir, dosenku itu langsung bilang kalau mahasiswa cewek biasanya alergi terhadap tugas2 seperti ini. Aku pun langsung dibilang pasti tidak tahu bagaimana cara membuat tugas tersebut. Pasti hanya teman2 satu kelompokku yang membuatnya dan aku hanya nebeng sama mereka. Saat aku bilang kalau aku juga mengerjakan tugas tersebut, dosenku itu masih tak percaya dan bilang kalau aku sebaiknya jujur saja. Tidak baik lho mengakui hasil kerja orang lain sebagai hasil kerja kita. Deggg!!! siapa yang tidak sakit hati dikatakan seperti itu? Didepan kelas pula! Begitu sakit hatiku saat itu. Selesai kuliah, teman2 cowok yang satu kelompok langsung menghiburku dan bilang tak usah dimasukkan dalam hati. Tetapi aku sungguh sangat kecewa, sakit hati dan merasa apa yg kukerjakan tidak ada artinya. Tidak diakui sebagai hasil kerjaku. Membuat gambar rangkaian sampai larut malam, mencari papan, proses pelarutan  yang kukerjakan bersama teman2 seakan tidak ada artinya sama sekali dihadapan dosenku. Belum lagi proses pembuatan makalahnya. Saat itu aku langsung  menyendiri di lantai 2 gedung arsitektur yang berseberangan dengan tempat kuliahku. Ditempat itulah aku menangis tersedu-sedu, membiarkan butiran bening yang sudah kutahan-tahan dari ruang kuliah mengalir turun tanpa dilihat oleh siapapun. Mengapa aku yang sudah berusaha mengerjakan semuanya harus menerima perkataan seperti ini? Pikirku mungkin lebih baik saat itu aku tak masuk kuliah saja sama seperti teman2 cewekku yang lain. Mereka tidak membuat tugasnya, dan mereka tidak dimarahi. Sedangkan aku? Sudah membuat tugas, tapi masih harus menerima kata2 yang tidak menyenangkan. Setelah puas menangis, akupun langsung pulang ke rumah. Sesampainya dirumah langsung kuceritakan kejadian itu pada mamaku, dan beliau bilang padaku kalau aku tak seharusnya sakit hati. Jadikan perkataan itu sebagai cambuk agar aku bisa lebih baik lagi. Dan satu lagi yang penting, suatu saat buktikan kalau apa yang dikatakan dosenku itu salah. Mendengar kata2 mamaku, entah mengapa segala perasaan kecewa dan sakit hati itu berangsur-angsur menghilang. Dan yang kulakukan selanjutnya adalah masuk ke kamar, berdoa kepada Tuhan untuk kejadian yang boleh kualami hari itu. Mendoakan dosenku juga. Dan bersyukur untuk kejadian yang boleh kualami hari itu. Saat itu aku pun tak tahu mengapa aku bisa hatiku terasa begitu lepas saat membawa semuanya dalam doa. Beberapa bulan kemudian waktu ujian untuk mata kuliah itupun tiba. Disaat teman2ku merasa kesulitan mengerjakan soalnya yang semuanya berbentuk essay, aku bisa mengerjakannya dengan mudah. Karena soal ujian yang ditanyakan kebanyakan tentang proses pembuatan rangkaian dan cara kerja rangkaian yang jika kita membuatnya sendiri pasti itu akan terasa mudah. Saat itu aku tak memikirkan hasil ujianku, entahlah aku mau diluluskan oleh dosenku itu atau tidak secara namaku mungkin sudah dicatat olehnya, yang terpenting aku sudah menjawab ujian itu dengan sebaik2nya sesuai kemampuanku. Menjawab berdasarkan proses yang kulalui. Saat daftar nilai akhir untuk mata kuliah itu keluar, aku sungguh sangat terkejut melihatnya. Banyak teman2ku mendapat nilai rendah sehingga harus mengulang lagi. Hanya 2 orang yang mendapat nilai A. Puji Tuhan, aku adalah salah satunya. Saat itu aku tahu, inilah rencana Tuhan untukku. Inilah kehendak Tuhan mengijinkan aku untuk melalui semuanya. Melalui proses yang membuat hatiku sakit, kecewa dan terluka, tapi diakhir perjuangan ada hal indah yang diberikanNya untukku.

—–

16 Januari 2003. Hari itu adalah hari pengumuman penempatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang kuikuti di Kampus. Karena aku mengikuti program KKN yang full (harus  menginap dilokasi) tentunya aku sangat berharap kalau lokasi penempatanku di desa yang sudah agak familiar denganku, alias ada sanak saudaralah yang tinggal didesa tersebut…. (Ini adalah harapan hampir semua peserta KKN cewek lho… Kalo peserta cowok sih dimana2 enjoy aja :)). Ada juga temanku yang memilih program KKN satgas yang artinya tidak perlu menginap dan lokasi penempatannya hanya disekitar Kota Manado saja. Pada saat pengumuman, aku ternyata mendapat lokasi penempatan di Desa Aergale Kecamatan Sinonsayang Kab. Minahasa Selatan. Sebuah desa yang berada di jalur trans sulawesi namun juga terletak di pesisir pantai. Penempatan di desa tersebut awalnya membuatku sedikit kecewa, karena saat itu aku berharap semoga saja aku bisa mendapat penempatan di Kab. Minahasa Induk (karena banyak saudaraku disana, jadi ceritanya rencana KKN sambil pesiar ke rumah saudara). Tapi apa yang ada dalam angan2 dan rencana kita belum tentu merupakan jalan dan rencana Tuhan. Buktinya aku mendapat penempatan di desa yang sama sekali tak ada kenalan ataupun sanak saudara disana. Benar2 menjadi orang asing di kampung orang. Mulailah aku dan teman2 se posko denganku (kami semua ada 8 orang) menjalani kehidupan jauh dari Kota Manado selama dua bulan lebih.  Sebuah desa pesisir yang walaupun berada dijalan trans sulawesi namun sangatlah sunyi dan cenderung tak hidup. Jarak antar rumah yang cukup jauh, tak ada sarana hiburan sama sekali, bahkan selama 2 bulan kami tak pernah menonton TV karena hanya 1 atau 2 keluarga yang punya pesawat televisi di desa itu. Untuk warung yang menjual kebutuhan sehari-hari saja tak kami temui. Jika ingin berbelanja, kami harus berangkat subuh2 ke pasar di kampung sebelah, karena di desa ini tak ada pasar. Untuk menelpon keluarga di Manado, aku harus mencari wartel di desa Poigar yang sudah berbatasan dengan Kabupaten Bolaang Mongondow. Seorang temanku ada yang membawa handphone, tapi apa daya tak ada signal di desa tersebut :(. Untuk tempat tinggalpun kami harus tinggal di rumah yang masih setengah jadi, dimana belum ada pintu dan jendela, sehingga saat tidur kami harus siaga penuh karena kamar tidur hanya ditutupi dengan gorden dan jendela kamar hanya ditutup dengan selembar tripleks diwaktu malam. Benar2 sebuah desa yang masih jauh dari kata maju. Tapi kami melalui begitu banyak hal yang menggembirakan. Dari mahasiswa2 yang terbiasa dengan keramaian kota, kami akhirnya bisa berbaur dengan warga desa. Ikut kerja bakti bersama, ikut sensus, menjadi tenaga sukarela di posyandu, menjadi guru dadakan sampai menjadi tukang cat tapal batas desa. Semuanya begitu menggembirakan. Saat sore hari posko kami sudah dipenuhi dengan anak2 kecil yang ingin belajar. Kami akhirnya menjadi guru dadakan yang mengajarkan mata pelajaran agama, matematika dan bahasa indonesia. Semangat anak2 kecil itu sungguh luar biasa. Banyak orang tua yang bilang kalau sejak kami membantu mengajar, nilai-nilai anak mereka jadi lebih bagus. Mereka lebih pintar berhitung dan membaca., seandainya saja kami bisa tinggal lebih lama disana….. Diwaktu sengang kami menghabiskan waktu dengan bermain di tepi pantai, menyusuri hutan-hutan bakau dan menghabiskan senja sambil makan jagung bakar ditemani air kelapa muda. Ah… betapa menyenangkan. Mulai dari rasa kecewa karena tidak mendapatkan lokasi penempatan yg sesuai dengan harapanku lambat laun aku mulai jatuh cinta dengan desa ini. Aku akhirnya tahu mengapa Tuhan menempatkan aku disini. Ditempat inilah Dia membentukku menjadi orang yang lebih mandiri, di desa inilah aku mengalami suka duka kehidupan di luar kehidupan bersama keluargaku, di desa inilah aku boleh ditunjukkan suasana lain diluar suasana kehidupan yang kulalui bersama keluargaku, di desa inilah Tuhan menunjukkan padaku bahwa ditengah-tengah suasana yang sunyi dan jauh dari kata maju namun kami masih bisa merasakan kebahagiaan, dan yang sungguh luar biasa, di desa inilah aku bertemu dengan seseorang yang kini menjadi suamiku!!!

—–

Sebelum menikah aku selalu ingin sekali jika hari pernikahanku kelak bisa berlangsung di hari sabtu. Memang sudah menjadi suatu kebiasaan di tempat tinggal kami kebanyakan pesta pernikahan dilangsungkan di hari sabtu. Tak heran gedung-gedung dan restoran banyak yang penuh di hari sabtu karena pesta pernikahan sering sekali diadakan dihari sabtu. Sejak awal lamaran, keluarga besar kami sudah menetapkan bahwa pernikahan kami akan dilaksanakan pada hari sabtu tanggal 19 desember 2009. 4 bulan sebelum hari H, mama dan papaku sempat survey ke beberapa tempat untuk tempat pelaksanaan resepsi pernikahan kami, Pilihan kami saat itu jatuh pada salah satu restoran yang mana dulu sepupuku juga menikah disitu. Saat aku menelpon restoran itu dari Kediri, untuk tanggal 19 desember kata mereka masih kosong. Minggu depannya saat aku pulang ke Manado untuk mengurus segala sesuatu berkaitan dengan pernikahanku, salah satunya membooking tempat sekaligus membayar uang muka, betapa terkejutnya aku karena tanggal 19 desember sudah di booking orang lain. Dan lebih menyakitkan lagi, aku hanya terlambat beberapa jam dari orang yang membooking tempat di tanggal tersebut. Mereka datang sore hari, dan aku datang malam hari. Pupuslah sudah keinginanku mengadakan pesta pernikahan di hari sabtu. Untuk mencari tempat lain sepertinya sudah tidak mungkin karena kami sudah sreg dengan restoran tersebut dan memutuskan untuk melaksanakan pesta pernikahan disitu. Jika mencari tempat lain, otomatis aku dan keluargaku harus melakukan survey dari awal lagi. Dan itu butuh waktu, padahal masih banyak hal lain yang harus kami urus. Akhirnya keluarga besar kami berunding, memutuskan bahwa pernikahan kami dilaksanakan hari jumat, 18 desember 2009. Masih agak kurang rela diriku saat itu karena tanggal yang sudah kupilih sejak awal adalah tanggal 19. Tapi mamaku bilang begini : “Kenapa sedih kalau menikah bukan di hari sabtu? Kan semua hari itu baik… semuanya istimewa…” Akhirnya jadilah juga aku menyetujui pernikahanku dilaksanakan tanggal 18 desember walaupun awalnya aku masih bersungut-sungut, menyesali kebodohanku yang terlambat datang membooking gedung. Tapi setelah melewati hari pernikahan di tanggal 18 desember 2009, aku akhirnya tahu mengapa Tuhan memilih hari itu sebagai hari pernikahanku. Banyak kerabat, tetangga dan saudara yang datang memberi doa di hari pernikahan kami. Saat pagi sampai siang cuaca hari itu memang hujan, tapi menjelang waktu pemberkatan cuaca berubah menjadi sangat cerah, bahkan saat malam hari sehabis resepsi aku masih bisa melihat bintang-bintang yang bertaburan di langit. Jika aku tetap bersikukuh menikah di tanggal 19, pada akhirnya aku tak yakin jika akan ada banyak orang yang bisa menghadiri pesta pernikahanku, aku tak yakin saudara-saudaraku yang dari jauh akan bisa datang karena tanggal 19 itu dari pagi sampai tengah malam Manado diguyur hujan lebat, bahkan cenderung badai. Atap-atap rumah berupa seng banyak yang bertebaran karena disapu angin kencang. Aku akhirnya menyadari bahwa aku  begitu bodoh karena telah bersungut-sungut diawalnya, padahal Tuhan sudah menyiapkan hari dan waktu yang terindah untuk hari pernikahanku.

—–

“Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah Firman Tuhan. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu” (Yesaya 55:8-9)

Ampuni aku Ya Tuhan…..

Ternyata  aku masih harus belajar banyak untuk mengerti jalan dan kehendak Tuhan dalam hidupku…

Tuhan ajarkanlah kehendakMu

Nyatakan jalanMu dan FirmanMu

Kus’rahkan hidupku pada bimbinganMu

Dekatkan diriku kepadaMu

Ajarlah ku kenal anugrahMu

Sinarilah dengan t’rang wajahMu

Hapuskan dosaku diami hatiku

Kiranya ku tetap bersamaMu

Ajarlah ku kenal kuasaMu

Dalam derita pun kupandangan Kau

Hingga didalamMu ku bersejahtera

dan kebimbanganku hilang seg’ra

Ajari aku bermadah syukur

Ya Raja, bagiMu ku bermazmur

Kuingin Ya Tuhan tetap didalamMu

Hidup dan matiku ditanganMu

 

Advertisements

Read Full Post »

Nela memang belum sekolah. Selama ini hanya belajar di rumah saja. Tapi bagaimana dengan foto dibawah ini?

968846_10200808981844116_1446795574_n

Nela di Manado

Kira2 sudah pantas gak ya buat jadi anak sekolahan? 🙂

(Wah…. Pakai seragam TK tapi yang dibawa oleh Nela cuma mainan, bukan tas, buku maupun perlengkapan sekolah)

Read Full Post »

Benarkah hidup itu indah? Dimata seorang wanita tua, yang terjadi justru sebaliknya. Hidup begitu menyedihkan. Wanita ini menangis kala hujan maupun panas. Seorang lelaki merasa iba dan bertanya, “Mengapa Ibu menangis?”. Wanita itu menjawab,”Aku punya dua putri, yang sulung menjual sepatu kain dan yang bungsu menjual payung. Bila hujan turun, aku sedih memikirkan putri sulungku yang sepatu kainnya tidak laku. Sebaliknya bila hari panas, aku sedih memikirkan putri bungsuku yang payungnya tak laku”.

Mendengar itu lelaki tadi berkata, “Sekarang coba pikirkan yang sebaliknya. Kalau hujan pikirikan putri bungsumu. Pasti payungnya banyak terjual. Sebaliknya kalau cuaca cerah, pikirkan putri sulungmu. Bukankah sepatunya akan laku keras?”. Wanita itu mendengarkan nasihat itu dengan sungguh-sungguh dan sejak itu ia tak pernah menangis lagi. Ia selalu bersyukur setiap saat.

~Dikutip dari buku Life is Beautiful

Sebuah Jendela untuk Melihat Dunia-

Hidup itu indah…

Life is Beautiful….

Begitu banyak sisi-sisi kehidupan yang teramat indah yang tidak pernah kita sadari. Semuanya tergantung dari cara pandang kita memandang setiap hal yang terjadi. Jika kita memandang segala sesuatu melalui “jendela” keindahan, maka semuanya pasti akan nampak indah. Sebaliknya jika kita memandang melalui “jendela” yang kotor, maka tentu yang nampak adalah hal yang tidak indah.

So, sudahkan kita memandang segala hal melalui “jendela” keindahan? Jika belum, mari segera bersihkan “jendela” kita…. 🙂

Read Full Post »

Beberapa waktu terakhir ini aku sempat beberapa kali mengeluh dihadapkan dengan pekerjaanku.  Dan ketika kusadari saat ini, mengeluh itu adalah hal bodoh yang kulakukan. Buat apa mengeluh? Toh walaupun mengeluh sampai tua, itu tak akan membuat pekerjaan jadi ringan. Malahan yang ada aku hanya menyimpan bibit-bibit keluhan yang lama kelamaan jika dipelihara akan berubah menjadi rasa antipati terhadap banyak hal. Pergantian atasan langsung memang membawa dampak yang cukup besar. Bukan hanya pembawaan dan karakter atasan sebelum dan sekarang yang sungguh sangat bertolak belakang, namun ritme dan alur kerja yang juga sangat berbeda. Jika yang sebelumnya enjoy-enjoy saja yang penting mlaku, maka yang sekarang harus penuh dengan perencanaan yang sungguh sangat matang. Dan atasanku yang ini juga super duper teliti. Waktu awal-awal beliau masuk, entah tak terhitung berapa kali berkasku harus bolak-balik dikembalikan olehnya. Mengingatkanku pada saat kuliah dulu pas asistensi ke dosen mata kuliah menggambar teknik listrik. Selamabelum sesuai dengan harapan beliau, selama masih ada terlihat bekas hapusan di kertas gambar maka jangan harap bisa lolos tugas menggambar. Ya kira2 begitulah tipe atasanku yang sekarang. Aku merasa kembali ke jaman 14 tahun lalu saat menjadi mahasiswa semester 1 yang waktunya habis mengerjakan tugas menggambar 🙂 Tapi hal yang begitu ku syukuri, dengan bolak-baliknya berkas pekerjaanku dikembalikan maka aku dituntut untuk menjadi lebih teliti lagi dalam mengerjakan pekerjaanku. Dan syukurlah sekarang ini sudah jarang berkasku yang dikembalikan. 1 kali masuk langsung lolos deh. Kan sudah belajar dari pengalaman. Dan bukan hanya aku saja yang mengalami kejadian seperti ini, teman2 yang satu bagian denganku juga ternyata mengalami hal yang demikian. Beliau memang menempa kami para staffnya dengan keras…

Pernah ada kejadian begini. Saat itu aku menyodorkan suatu berkas kerjaan dan beliau meminta analisa tentang pekerjaan tersebut. Saat itu aku sudah membuat analisanya, cuma tidak kulampirkan. Berada diruangan beliau seakan mau ujian saja, aku ditanyai detil tentang rencana kerja tersebut plus analisanya. Pas kujelaskan, beliau hanya mangut2 saja dan bilang padaku : “Sederhana sekali analisamu mbak”.  Saat itu kukira beliau sudah akan langsung menolak, tapi tak kusangka beliau langsung menandatanganinya sambil bilang begini dengan mimik yang serius : “sungguh terlalu sederhana, tapi masuk akal dan realistis”. Aku hanya bisa menghembuskan nafas lega, ternyata bisa lolos juga.

Jumat kemarin pas beliau menanyakan sesuatu padaku dan karena aku tidak tahu tentang hal tersebut beliau langsung menimpaliku dengan perkataan”Wah, sampean tidak canggih mbak”. Bukan cuma itu saja, ketika itu ada pekerjaan yang harus kami susun dan rencanakan. Karena belum pernah membuat analisa untuk pekerjaan tersebut, otomatis aku masih meraba-raba kira2 seperti apa membuat analisanya. Dan beliau pun ternyata belum pernah membuatnya. Saat itu beliau menyuruhku untuk menghubungi teman di Area lain. “Coba hubungi Area lain mbak, kamu punya teman di Area lain kan?” tanya beliau. “Anak Ren ya Pak?” tanyaku. Teman2 ku di Area lain memang kebanyakan anak perencanaan. “Bukan, teman dibagian pelayanan. Punya kan teman disana?” katanya. Wah kalau dibagian pelayanan kebanyakan teman2 yang kukenal sudah bertugas di Rayon, jarang yang ada di kantor Area lagi. Jadi kujawab saja : “Gak punya pak…” dan sekali lagi jawabanku langsung disambut dengan perkataan ini olehnya : “Payah sampean mbak, gak gaul…” Yang hanya bisa kusambut dengan senyum kecut.

Tak apa2lah pak… mungkin sudah nasib bapak punya staf yang gak canggih dan gak gaul sepertiku.. 🙂

Kata teman satu bagian denganku yang seorang bapak, atasan kami yang baru ini seakan memberi warna baru dalam bagian kami. Setuju deh pak… beliau membuat bagian kita menjadi penuh dinamika, tak hanya berjalan statis seperti biasanya. Kan tak selamanya kita lewat jalan tol, sekarang kita sudah keluar dari gerbang tol…. sudah mulai melewati jalan perkampungan. Mungkin sebentar lagi kita akan lewat jalan yang penuh kerikil2 tajam, atau bahkan menemui jalan buntu. Tapi pasti, dengan semangat dan komitmen kita pasti bisa melaluinya. Aku yakin Tuhan pasti memberiku kekuatan menghadapi semuanya dengan senyum.

Ah jadi teringat dengan rekan kerjaku yang satu lagi, satu bagian denganku yang tugasnya melakukan survey di lapangan. Yang sering bercerita padaku saat beliau mengalami kendala dilapangan karena menemui jalan buntu saat survey, atau tidak ada akses jalan untuk membangun jaringan, atau malahan harus menemui medan terjal untuk sampai ke lokasi. Ternyata bukan hanya dilapangan aja pak yang ada kendala, kerja diruangan pun ternyata kadang aku harus mengalami jalan buntu dan medan terjal. Semoga senin besok kita bisa saling berbagi cerita, bukan berbagi keluhan lagi…… 🙂

Read Full Post »

Menghabiskan sore dirumah…. Menikmati bergesernya senja menuju malam dengan ditemani alunan lagu manado minahasa yang diiringi kolintang anyalos membawaku pada suatu perasaan rindu… kerinduan yang amat sangat untuk…..

…………….

…………….

…………….

Pulang kampung!!!

Bukan sekedar pulang kampung menjenguk keluarga,

Bukan sekedar pulang kampung untuk berlibur…..

Tapi lebih dari itu…..

Pulang kampung untuk kembali menetap disana…… menetap di tempat dimana aku dilahirkan dan dibesarkan….

Tak terasa sudah hampir 7,5 tahun aku menetap di kota ini, meninggalkan tanah kelahiranku.

Baru hampir 7,5 tahun…. itu belum apa2… tahun-tahun perantauanku masihlah singkat dibanding mereka yang sudah berpuluh-puluh tahun meninggalkan kampung halaman…

Aku tahu, tahun2 perantauanku masihlah singkat, tapi entah mengapa perasaan untuk kembali pulang kampung selama beberapa bulan terakhir ini begitu kuat dalam hatiku. Bukan berarti pula aku tak suka dengan kota dimana aku menetap sekarang. Tidak… aku sungguh sangat bersyukur bisa tinggal disini. Kota ini begitu indah bagiku, kota ini adalah saksi perjalanan pertamaku sebagai perantau yang mengadu nasib mencari sesuap nasi. Kota ini adalah tempat dimana ari-ari anakku ditanam. Kota ini adalah kota dimana aku mulai menjalani kehidupan berkeluarga. Kota ini adalah saksi dimana aku menjadi seorang ibu. Dan sebagaimana seorang perantau, aku pun sadar bahwa ada saat dimana aku tak bisa selamanya menetap di kota ini, ada masa dimana kami, ya keluarga besar kami bisa berkumpul secara utuh.  Dan itu bukan di kota ini…..

Aku hanya bisa berdoa, semoga suatu ketika ada waktu terindah yang Tuhan sediakan bagi keluarga kecil kami untuk kembali menetap disana. Itu impianku, itu impian kakak, dan aku tahu itu juga adalah impian Nela….

Bukankah tak ada yang musthail bagiNya kan???

Read Full Post »